Daihatsu Menghijaukan Bumi

Siang itu, saat terik matahari menyengat kulit tanpa ampun, dua orang sahabat, Tarji dan Tarjo, sedang duduk berdesakan di angkutan umum. Tarjo, sang komentator, tampak berkali-kali mengusap peluh yang menetes di dahinya.

Tarjo: “Aduh, panas banget sih. Ini angkutan kok gak pakai AC ya, Ji.”

Tarji: “Alah, Jo..Jo..kamu tu ada-ada saja. Emang kamu mau bayar berapa?”

Tarjo: “Katanya memberikan yang terbaik pada pelanggan. Ya, harus benar-benar tokcer lah layanannya. Gak kayak gini.

Tarji: Oalah, Jo..Jo..udah tidur sana. Biasanya tidur kok ngomel aja.

Tarjo: Iya, sih. Tapi, ngomong-ngomong kok bumi kita semakin panas, ya. Gak ada dingin-dinginya. Ini aja kayak ada kompor diatas kita. Panasnya ampuuun! Lama-lama bisa kayak sate kita.”

Tarji: “Ya..gimana ya, Jo. Semua sekarang sudah serba mesin. Dikit-dikit pakai mesin. Gak ada lagi yang mau manual kayak kakek-nenek kita.”

Tarjo: “Maksudmu apa, Ji? Aku gak faham.”

Tarji: “Emang kamu tu fahamnya apa toh, Jo. Gitu aja kok gak faham. Gini loh maksudnya. Kau tahu kan, kalau pakai mesin, kita butuh bahan bakar. Nah, bahan bakar itukan mengeluarkan asap. Nah, asap-asap itu mengandung senyawa-senyawa yang bisa menambah panasa bumi kita ini. Contohnya, CO2.”

Tarjo: “Oalah..tambah gak mudeng aku. Yo weslah..kamu ngomong aja nanti aku faham-fahamkan. Tapi, pelan-pelan, yo.”

Tarji: “Pokoke, kamu jangan tidur. Aku kayak kaset rusak nanti.”

Tarjo: “Beressssss!”

Tarji: “Gini, Jo. Contohnya saja, mobil. Kamu tahu kan, kalau mesin mobil berjalan, akan terjadi pembakaran. Nah, proses pembakaran itu akan mengeluarkan gas buang. Gas buang itu yang mengandung banyak gas-gas yang berbahaya bagi kita. salah satu contohnya adalah gas CO2. Gas ini bisa memicu panas bumi. Kamu pernah dengar “Efek Rumah Kaca” gak?”

Tarjo: “Itu kan nama group musik, Ji. Ya tahulah.”

Tarji: “Group musik, group musik, gundulmu. Itu salah satu dampak dari padatnya CO2 di udara kita.”

Tarjo: “Oh..terus, gimana cara mengatasinya. Masa kita mau melarang mobil jalan? Bisa gempor kita jalan tiap hari. Ditambah panas yang kayak gini, bisa tambah gelap aja ini kulitku.”

Tarji: “Nah, itulah, Jo. Sekarang banyak produsen mobil yang lagi mengembangkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi hijau. Yang lebih bersih dan gak memicu banyak polusi. Kamu tahu Daihatsu, kan? Perusahaan mobil dari Jepang.”

Tarjo: “Ya tahulah. Mobilnya pak Kandar itu, kan?”

Tarji: “Nah, betul sekali. Saat ini Daihatsu lagi mengembangkan Teknologi hijau untuk mobil masa depannya. Mobil yang ramah lingkungan, Jo.”

Tarjo: “Wah.. berarti nanti semua mobil Daihatsu warna hijau, dong?”

Tarji: “Gundulmu kuwi. Itu lak yo cat rumahmu.”

Tarjo: “Lha, terus?”

Tarji: “Sederhananya, teknologi hijau itu teknologi yang ramah lingkungan, yang gak memberi pencemaran. Jangan kamu bilang kalo nanti asap mobil Daihatsu warna hijau lho, ya.”

Tarjo: “He..he… Ji, aku haus. Minummu masih ada, kan? Kamu lanjut aja ngomongnya. Pelan-pelan, biar aku faham.”

Tarji: “Gini, Jo. Saat ini Daihatsu lagi menyiapkan langkah untuk produk teknologi hijau masa depannya. Ada tiga langkah yang digunakan. Pertama,  TeknologiEco-Idle“.  Kalau pakai teknologi ini, mobil bisa mati secara otomatis kalau lagi terjadi kemacetan, atau misalnya dibawah 7km/jam. Jadi, dengan teknologi ini, mobil Daihatsu bisa mengirit bahan bakar. Kamu tahukan betapa macetnya kota kita ini? padahal, Jo, kalau lagi macet dan mesin mobilmu masih tetap menyala, itu namanya pemborosan bahan bakar. Belum lagi, mesin dalam kondisi seperti itu tidak akan bisa melakukan pembakaran dengan sempurna. Kamu tahu akibatanya apa? Semakin banyak gas berbahaya yang akan dikeluarkan, contohnya saja, karbon monoksida atau hidrokarbon. Dan kamu tahu akibatnya apa kalau kadarnya terlalu tinggi. Kamu bisa sesak nafas, atau paru-parumu bisa sakit kalau menghirupnya terlalu banyak. Nah, kalau mobilmu mati sendiri, semua itu bisa dihindari, Jo. Kamu gak boros bahan bakar juga gak mencemari udara dengan gas beracun dari mobilmu. Jo, hei..faham gak?”

stage1eco

Tarjo: “Faham-faham, Ji. Intinya kan mobil kita harus mati kalau macet, biar gak boros bahan bakar, dan gak mengeluarkan gas yang berbahaya karena pembakaran yang gak sempurna. Gitu, kan? “

Tarji: “Oh, ya, Jo, teknologi ini juga didukung denga sistem i-EGR. Sistem ini nanti akan bisa memicu pembakaran yang lebih sempurna dan meminimalisir keluarnya CO2. Artinya, bisa mengurangi potensi pemanasan global, Jo.”

Tarjo: “Oh…Terus yang kedua apa, Ji?”

Tarji: “Nah, yang kedua teknologi2-Cylinder Turbocharged Ignition”.

stage2eco

Tarjo: “Apa itu, Ji. Kok ruwet banget bahasanya.”

Tarji: “Sederhanya, Jo, mobil Daihatsu masa depan nanti pakai mesin 2 silinder saja dengan pengapian turbocharged.”

Tarjo: “Lho, bukannya 2 silinder itu biasanya digunakan untuk kendaraan sepeda motor?”

Tarji: “Siiiip. Kamu benar, Jo. Umumnya mobil memang pakai 3 silinder, tapi kali ini Daihatsu lebih berani dengan hanya 2 silinder saja. Tapi, kamu gak usah khawatir, Jo. Silindernya akan diperbesar dari ukuran biasanya turbocharged. Kamu tahu gak, Jo. Kalau mobil itu memakai 2 silinder pembakarannya bisa lebih sempurna. Ditambah lagi, nanti Daihatsu juga akan mengunakan teknologiactive ignition” yaitu sistem pengapian langsung dengan percikan multipleks. Dengan teknologi ini, semua bahan bakar yang ada dalam mobil akan terbakar sempurna. Dampaknya, lagi-lagi penghematan bahan bakar. Mobilmu gak boros lagi. Anak-cucumu masih kebagian jatah bahan bakar. Tahu gak, berapa target yang diinginkan Daihatsu dari mode penghematan ini? 35km/l. Hebat bukan?”

Tarjo: “Wah…keren-keren! Lah, terus yang terakhir bagaimana, Ji?”

Tarji: “Bentar, Jo. Aku juga haus! Dari tadi ngomong terus. Enak kamu cuma denger aja. Mana minumnya?”

Tarjo: “Nih..habisin aja. Biar kerongkongamu semakin licin, dan ngomongmu semakin lancar.”

Tarji: “Ah..segeerrr! ngomong-ngomong kita sudah nyampai mana ya? Masih jauhkah?”

Tarjo: “Masih. Santai aja. Lanjutkan! ke tahap yang ketiga.”

Tarji: “Okee..Nah, tahap yang ketiga ini namanya teknologi Precious Metal-Free Liquid-Feed Fuel Cell.”

stage3eco

Tarjo: “Waduh…apalagi itu? Kok semakin ribet aja istilahnya.”

Tarji: “Tenang, Jo. Rileks. Bahasanya memang ribet, tapi sederhana kok sebenarnya. Pada tahap ini nanti Daihatsu akan mengembangkan bahan bakar cair hidrazin hidrat, yang merupakan sintesis dari nitrogen dan hidrogen. Ini inovasi baru, Jo, karena biasanya bahan bakar yang sering digunakan adalah hidrogen. Kamu tahu gak apa hebatnya hidrazin hidrat? Aku sih sebenarnya juga gak tahu, cuma beberapa hari yang lalu sempat mampir ke mbah Wiki, terus cari-cari, eh ternyata hidrazin ini lebih hebat dari hidrogen. Ia tidak mudah terbakar pada suku normal, daya listriknya juga jauh lebih tinggi. Dan yang penting lagi, tidak mengeluarkan CO2 yang bisa memicu pemanasan global, alias CO2= nol. Nah, kalo yang dimaksud dengan precious metal-free itu adalah penampungnya, yaitu bahan yang tidak terbuat dari logam mulia. Untuk menampung hidrazin ini tidak membutuhkan logam mulia seperti hidrogen, jadi lebih murah. Gimana, faham gak?”

Tarjo: “Faham, Ji. Tapi sebenarnya dari tadi aku tu bingung. Terus teknologi hijaunya itu dimana? Apanya yang hijau? kok kayaknya gak ada. Tanam pohon juga enggak?”

Tarji: “Tuh, kumat lagi. Tadikan udah ku bilang, Jo. Teknologi hijau itu tidak harus sesuatu yang berwarna hijau. Jangan gaptek alias ndeso, ahhh!”

Tarjo: “Lha..terus gimana?”

Tarji: “Teknologi hijau itu sebenarnya memiliki beberapa tujuan, Jo, sebagimana yang ku baca dari http://www.green-technology.org/what.htm. Yang pertama sustainability, yaitu ketahanan. Maksudnya adalah, teknologi yang kita gunakan itu harus bisa menjamin ketahanan sumberdaya alam dimasa yang akan datang. Jadi gak kita habis-habiskan sekarang agar anak cucu kita tetap kebagian. Misalnya, kalau mobil yang kita gunakan itu hemat bahan bakar, berarti kan anak cucu kita nanti tetap dapat jatah, Jo. Apa kamu gak kasihan kalo tiba-tiba ana cucumu nanti gak punya bahan bakar? Yang kedua, cradle to cradle design. Kamu tahu gak maksudnya apa? Meski bahasanya ribet, Jo, tapi maksudnya sederhana kok. Yaitu, produk-produk yang kita gunakan ini harus bisa digunakan kembali, reclaimed atau reused. Jangan sampai produk kita itu sehabis digunakan langsung dibuang kekuburan, alias habis. Itu namanya cradle to grave. Ini juga ada kaitannya dengan tujuan yang pertama tadi, Jo, ketahanan. Masih mau dengar lagi, gak? Atau dua ini saja?”

Tarjo: “Masih, lanjuuuut!”

Tarji: “Yang ketiga, Jo, source reduction. Maksudnya gini, Jo, mengurangi limbah atau polusi yang kita dari produk yang kita gunakan dengan mengubah pola konsumsi dan produksi. Coba kamu bayangkan, kalau kamu terjebak macet terus mesin mobilmu menyala, bukannya itu sama saja dengan pemborosan bahan bakar? Bukannya mengurangi polusi, itu malah menambah polusi. Kamu juga bisa membayangkan kalau Daihatsu gak memakai hidrazin hidrat, apa mungkin bisa mengurangi keluarnya CO2 dari bahan bakarnya? Faham kan? Nah, ini tujuan yang keempat, innovation. Kayaknya sudah cukup jelas deh, Jo. Dari ketiga tahapan yang dikembangkan Daihatsu tadi, semuanya adalah inovasi baru, teknologi mutakhir. Jadi gak perlu dipertanyakan lagi. setujukan?”

Tarjo: “Siiiiiip. Ada lagi gak?”

Tarji: “Ada. Ini yang terakhir, viability, yaitu menciptakan aktifitas ekonomis dari produk tersebut. Ya..mungkin bisa kita artikan seperti penghematan atau sejenisnya. Dari penjelasanku pada tahap pertama dan kedua, pasti kamu sudah bisa mengambil kesimpulan. Iya kan?”

Tarjo: “Oh… jadi itu maksudnya Daihatsu menamai produk masanya dengan teknologi hijau. Aku jadi faham sekarang.” Daihatsu mau menghijaukan bumi dengan pengiritan/efisiensi bahan bakar, inovasi bahan bakar baru, meminimalisir CO2, dll. Gitu kan?

Tarji: “Siiip. Tapi, yang penting bukan cuma faham, Jo. Kita juga harus turut mendukung. Apalah gunanya ada teknologi hijau tapi kita gak mendukung, Jadi sia-sia saja.”

Tarjo: “Ya iyalah. Aku juga ingin bumi kita jadi lebih sehat. Kita bisa bernafas bebas dengan aman. Anak cucu kita juga tetap sehat. Kulitku bisa jadi putih, gak ya kalo gak panas lagi. he..he….”

Tarji: “Dikapur aja kalau pengen putih. Nah, gitu dong. Baru namanya hebat.”

Tarjo: Ji, dari tadi kok kamu bilangnya itu teknologi masa depan. Berarti belum diproduksi dong?

Tarji: Emang, Jo. Tapi sudah ada kok contohnya. Sebentar, aku perlihatkan gambarnya. Kemarin aku sempat unduh dari situs http://www.daihatsu.co.jp/.

model

“Ini namanya Mira e:S, Jo. Ini contoh yang sudah menggunakan teknologi Eco-Idle, jadi bisa melakukan penghematan 30km/l, Jo.”

model2“Nah, yang ini FC Showcase. Ini kendaraan generasi baru dengan teknologi fuel-cell. Jadi sudah menggunakan bahan bakar cair hidrazin hidrat yang nol CO2 itu.”

model3

“Yang ini mobil D-X, Jo. Sudah dibekali dengan mesin 2 silinder direct injection turbocharged. Jadi pembakarannya lebih sempurna dan ngirit bahan bakar.”

Tarjo: Wah…keren-keren.

Sementara itu, sayup-sayup terdengar, “Terminal…terakhir. Terminal…terakhir.”

Tarji: “Lho, kok sudah nyampai terminal. Kita kelewatan, dong?”

Tarjo: “Aduh..kamu sih, Ji..Ji..ngomongnya lancar betul. Sampai-sampai kita kelewatan. Wah…harus balik lagi dong. Berpanas-panas lagi…berpanas panas lagi. Nasib…nasib!”



*************

Sumber gambar dan informasi:

http://daihatsu.co.id/

http://www.daihatsu.co.jp/

http://www.green-technology.org/what.htm

http://bs.wikipedia.org/wiki/Hidrazin

2 thoughts on “Daihatsu Menghijaukan Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s