Pada sore itu…

“Kau tidak perlu terlalu menyalahkan dirimu. Tidak semua apa yang kita impikan akan menuai hasil nyata.” Raka terus menatap lekat-lekat wajah yang ada didepannya. Sudah lebih dari dua jam mereka duduk di ruangan itu. Kopi mereka pun sudah mulai mencapai ampasnya.

“Aku malu sama semua keluarga dan teman-temanku. Aku sudah memberitahu mereka kalau aku akan melanjutkan studiku ke Italia. Rasa malu itulah yang selama ini mengangguku.” Ken berkata lirih sambil menghembuskan kuat-kuat asap rokoknya. Suara hampir tertelan oleh bunyi suara kendaraan di luar. Nampak sekali nada kecewa meluncur dari mulutnya.

“Iya, aku tahu, Ken. Tapi, kita juga harus sadar kita cuma memiliki dua tangan. Mustahil jika kita ingin merangkul semuanya. Kita harus siap melepaskan apa yang ada dalam genggaman kita jika kita ingin meraih hal yang baru. Melepaskan bukan berarti kita membuangnya, bukan pula kehilangan hal tersebut. Melepaskan bisa jadi merupakan satu langkah awal untuk meningkatkannya dengan raihan-raihan terbaru kita.” Raka kembali terdiam. Ia tahu ia harus bisa mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung sahabatnya itu.

“Ken, kau tahukan bahwa kesuksesan itu tidak hanya tentang hasil yang kita peroleh? Kesuksesan adalah tentang proses yang kita jalani. Apalah artinya hasil yang terlihat baik jika kita raih dengan cara-cara yang curang. Meski kau tidak jadi melanjutkan studimu ke Italia, itu tidak menandakan kalau kau gagal. Manusia boleh memiliki keinginan. Namun, Tuhan telah menetapkan garis kehidupan kita. Yang terpenting adalah kita berusaha sebaik mungkin. Biarlah Tuhan yang akan mengatur hasilnya.Baik atau buruk kita harus mensyukurinya. Merayakannya sebagai hasil terbaik yang kita raih. Yakinlah, keluarga dan teman-temanmu akan tetap merasa bangga padamu.”

Raka terdiam. Ia kembali menyulut rokoknya. Menghembuskan asapnya pelan-pelan.

Ken menatap wajah sahabatnya itu. Diam-diam ia membenarkan ucapan sahabatnya itu.

Sinar matahari sore menerobos melalui celah-celah dinding ruangan mereka. Selama beberapa saat keduanya asyik menikmati lamunan mereka sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s