Anak Emas Pendidikan

Bagaimana ya rasanya menjadi anak emas? Pastinya sangat menyenangkan. Semua permintaan akan dituruti. Sering mendapat puja puji atas prestasi yang dibuat. Bahkan, saat melakukan kesalahan pun puja puji dan toleransi masih juga didapatkan. Lain anak emas, lain pula yang tidak emas (atau bolehlah disebut anak perak atau perunggu..hee.hee). Meski menuai banyak prestasi, pujian belum tentu didapat. Andai mendapat pujian, itu pun hanya sesaat. Namun, saat membuat kesalahan, omelan dan kemarahan sering didapatkan. Itu adalah gambar sederhana antara mereka yang dianak emaskan dan yang tidak.

Anak emas banyak kita temukan dalam hubungan kekeluargaan. Tak sedikit, orang tua lebih cenderung untuk memberikan perhatian lebih kepada satu anaknya dibanding kepada yang lain. Semua keinginan sang anak dituruti. Kesalahannya ditoleransi. Sederhannya, kehidupan anak itu terjamin oleh semua perlakuaan menganak emaskan yang diberikan oleh orang tuanya.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu munculnya proses menganak emaskan. Bisa jadi dikarenakan faktor usia, prestasi, atau jenis kelamin. Misalnya, ada kecenderungan anak terakhir menjadi anak yang paling disayang. Ada pula kecenderungan orang tua untuk menganak emaskan mereka yang memiliki prestasi atau kecerdasan lebih dibanding dengan yang lainnya. Atau, seorang anak perempuan ditengan lingkaran saudaranya yang kesemuannya laki-laki, atau sebaliknya, laki-laki dalam lingkungan saudara perempuan, akan sangat disayang dan dianak emaskan.

Fenomena anak emas ini bukan hanya muncul dalam hubungan keluarga. Dunia pendidikan kita pun menjalankannya. Apa buktinya?
Cobalah kita berjalan-jalan ke lembaga sekolah, setingkat SMA misalnya, lalu tanyakan apa beda jurusan IPA dan IPS? Tak sedikit yang akan menjawab kelas atau jurusan IPA diisi oleh mereka yang pinter-pinter dan rajin. Sementara, untuk yang IPS diisi oleh mereka yang setingkat dibawah. Menjadi anak jurusan  IPA seperti memiliki prestise tersendiri di lingkungan sekolah. Bukti yang lebih kuat lagi adalah pada komposisi bidang studi Ujian Nasional.

Pada tingkat SD, ada tiga mata pelajaran yang diujikan, Bahasa Indonesia, IPA, dan Matematika. Setingkat diatasnya, SMP, mata pelajaran tersebut bertambah satu lagi menjadi Bahasa Inggris, dan pada tingkat yang lebih tinggi, SMA, komposisi ini hampir tidak mengalami perubahan kecuali hanya pada pemisahan antar jurusan, seperti IPA, IPS, atau mungkin Bahasa.

Melihat komposisi ini, sangat mudah untuk kita simpulkan bahwa mereka yang menguasai bidang studi bahasa, atau hitung-hitungaan lah yang paling banyak diuntungkan. Mereka dimanjakan. Sementara, yang tidak, harus rela untuk menepi. Hal ini lebih diperparah lagi dengan munculnya anggapan umum masyarakat bahwa kecerdasan hanya dilihat dari nilai Bahasa, Matematika, atau Sains. Mereka yang memiliki keahlian dalam bidang tari, seni suara, lukis, atau presenter, tak tergolong dalam kelompok cerdas. Bagi mereka yang berada dalam golongan kedua ini, pujian akan datang saat mereka benar-benar membuat prestasi yang membukan mata orang banyak. Saat belum, tak perlu banyak berharap untuk mendapatkan semua itu.

Suka tidak suka, diakui tidak diakui, inilah yang masih sering kita temukan dalam dunia pendidikan kita. Praktek pendidikan yang diharapkan mampu mengasah segala bentuk potensi dan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak, memiliki kecenderungan untuk pilih kasih. Mereka yang sesuai dengan trek umum pendidikan akan mendapatkan perlakuan istimewa. Bagi yang tidak, mereka harus berjuang keras sendirian untuk membuktikan kemampuan mereka.

Jika, sudah seperti ini, apa arti pendidikan bagi anak-anak? Jadi, sangat wajar saat pagi-pagi kita mendengar anak menangis karena dipaksa orang tuannya untuk berangkat sekolah. Mungkin, anak itu bukan tipe anak pemalas. Ia juga senang untuk berangkat sekolah. Hanya, karena ia mereka tak terperhatikan, ia pun menjadi malas-malasan untuk berangkat sekolah. Buat apa? Toh..ia juga tak terperhatikan oleh gurunya? Atau bahkan, menjadi ajang kemarahan dari sang guru?

————————–

Artikel terkait

2 thoughts on “Anak Emas Pendidikan

  1. I really like your blog.. very nice colors & theme.
    Did you make this website yourself or did you hire someone to do it for you?

    Plz respond as I’m looking to design my own blog and would like to find out where u got this from. many thanks

  2. There is certainly a lot to find out about
    this topic. I love all the points you’ve made.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s