Menulis dan Kerendahan Hati

Menulis adalah aktifitas menuangkan apa yang ada dalam fikiran kita dalam bentuk kata-kata diatas sebuah kertas. Bagi beberapa orang, menulis adalah aktifitas yang sangat menyenangkan, tapi bagi yang lain menulis menjadi aktifitas yang menakutkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena alasan kebiasaan. Bagi orang yang terbiasa, menulis menjadi semacam penjelajahan fikiran. Kita bisa mengekplorasi ide-ide yang ada dalam fikiran kita dengan bebas. Tapi bagi orang yang belum terbiasa, menulis membawa siksaan tersendiri. Ada semacam kebingungan, apa yang harus dituliskan, meski sebenarnya ada setumpuk ide dikepalanya.

Sementara itu, kerendahan hati adalah sikap untuk tidak menganggap diri paling menonjol dan paling wah. Orang yang memiliki sikap ini menyadari bahwa ada banyak manusia dengan sejuta potensi yang melebihi dirinya. Dengan begitu, dia akan lebih bisa menghormati orang lain, meskipun sebenarnya, orang lain tersebut tidak lebih baik dari dia. Lalu, apa hubungan antara menulis dan kerendahan hati?

Pada dasaranya, banyak orang menulis dengan tujuan sebagai koleksi pribadi. Tapi, ketika dia merasa bahwa tulisannya sudah semakin menumpuk, ada keinginan untuk mempublikasikan hasil tulisanya dengan tujuan berbagi ide. Pempublikasian ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, mengirim ke penerbit untuk dicetak, atau bisa juga mengirimkanya ke media cetak. Pilihan yang kedua umumnya dilakukan ketika tulisan itu berupa artikel atau opini pendek. Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak sekali  orang yang  mencoba mempublikasikan tulisanya melalui berbagai media, baik itu dosen, mahasiswa, atau akademisi yang lain.

Mengirimkan tulisan ke media, meniscayakan tulisan kita untuk berhadapan dengan hasil tulisan orang lain dari komunitas yang berbeda. Karena dalam satu hari, bisa saja media tersebut menerima berpuluh-puluh tulisan, dan yang pasti hanya beberapa saja yang bakal dimuat. Artinya, media akan melakukan seleksi secara ketat pada setiap tulisan yang akan dimuat. Maka, ketika tulisan kita tidak dimuat, saat itulah akan muncul kesadaran bahwa kemampuan kita masih dangkal. Kita belum ada apa-apanya. Ada lebih banyak orang dengan kemampuan otak yang lebih brilian dan tajam, yang mungkin saja usianya lebih belia dari kita atau bahkan orang tersebut siswa atau anak buah kita. Dengan demikian akan muncul sikap rendah hati, dengan selalu menghormati orang lain tanpa pandang bulu. Seorang guru bisa menghormati siswanya, dosen menghormati mahasiswanya, direktur menghormati anak buahnya dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s