Dua Hari Seru di Workshop Bacakilat

Terpilih menjadi pemenang pertama review buku the art of reading karya Agus Setiawan membawa saya mengikuti Workshop Bacakilat angkutan 71 Surabaya di hotel Shangri-La akhir pekan lalu (22-23/09/12). Selama 2 hari, sekitar 17 peserta workshop dilatih bagaimana memanfaatkan sistem bacakilat sebagai cara yang efektif untuk memahami buku dengan mengintegrasikan alam bawah sadar dan alam sadar.

Workshop yang dipandu certified trainer Juni Anton ini tepat dimulai pukul 08:30 sesuai dengan jadwal. Pada sesi pertama, semua peserta dikenalkan dengan sistem bacakilat yang ditemukan oleh Agus Setiawan mencakup menetapkan tujuan spesifik yang ingin diraih, membuat surat komitmen pribadi, sampai dengan hal apa saja yang harus kita lakukan selama mengikuti workshop tersebut.

Pelatihan terus berlanjut ke materi mengatasi hambatan dalam membaca. Setiap peserta diminta untuk menuliskan hambata-hambatan (perasaan negatif) yang selama ini kerap muncul saat melakukan aktifitas membaca atau perasaan negatif lainnya yang berhubungan dengan pembelajaran, memberi skala masalah dalam rentang nilai 0 – 10, menganalisis dampak negatif dari setiap masalah tersebut, serta dampak positif andai masalah-masalah tersebut hilang. Setelah itu, seluruh peserta mulai dibawa ke teknik untuk membebaskan diri dari berbagai masalah tersebut dengan EFT (emotional freedom technique) dengan langkah-langkah Set Up – Sequence – Gammut 9 – Sequence – Gammut Grounding, diiringi dengan melakukan cross-check skala hambatan yang telah dituliskan, ada penurunan atau masih tetap.

Pelatihan terus berlanjut. Saat ini, tepat sebelum istirahat makan siang, kami mulai masuk ke materi sistem bacakilat, dimulai dari langkah pertama, persiapan, yang mencakup kondisi genius, yaitu sebuah kondisi yang akan mempercepat proses pembelajaran dan penyerapan informasi. Dengan dipandu oleh sang trainer, kami pun dibawa masuk ke kondisi genius yang memakan waktu selama hampir 30 menit.

Setelah makan siang selesai, kami pun mulai masuk ke langkah kedua, tinjauan awal sebuah buku. Hal ini dimaksudkan untuk menilai sebuah buku sehingga kita memperoleh perspektif yang tepat tentang buku tersebut, dimulai dari memahamai gambaran awal dengan memberikan kesimpula serta menetapkan tujuan dari proses membaca yang akan kita lakukan. Hal ini menjadi sanga penting sehingga kita benar-benar tahu apakah buku itu tepat untuk kita baca atau tidak sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang berujung pada menumpuknya buku-buku di rak tanpa tersentuh sama sekali.

Selepas tinjauan awal, peserta pun mulai dibawa ke praktek bacakilat. Pada langkah ketiga ini, kami dilatih melakukan PMR (Pandangan Mata Reseptif) yang menjadi cara utama kita dalam melakukan bacakilat dengan memanfaatkan sel batang mata kita. Praktek ini dimulai dengan melihat jari imajiner dengan menempatkan dua jari telunjuk didepan mata kita, melihat gambar tiga dimensi yang “tersembunyi”, dan diakhiri dengan aplikasi PMR ke  buku, atau media lain, yang akan dibaca. Proses bacakilat ini diakhiri dengan visualisasi, yaitu proses mengalirkan apa yang sudah dibaca melalu pikiran bawah sadar menuju ke pikiran sadar supaya kita bisa tahu secara sadara apa yang kita bacakilat tadi.

Hari pertama ini diakhiri dengan proses pembuatan mindmapping sebagai salah satu langkah terakhir dari sistem bacakilat, aktivasi manual, setelah sebelumnya kami melakukan senam otak yang cukup fun dengan dipandu oleh sang trainer. Hari pertama selesai tepat pukul 18:00.

Hari kedua, dimulai pada waktu yang sama, pukul 08:30 pagi. Target hari ini, sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya, kami akan melakukan proses aktivasi manual dari tiga buku yang sudah kita bacakilat pada hari pertama, setelah semalam masing-masing peserta melakukan inkubasi sebagai proses awal aktivasi manual ini.

Langkah aktivasi manual pagi ini dimulai dengan proses review buku pertama yang kami bawa mencakup pembacaan terhadap prakata (jika ada), kata pengantar, judul atau subjudul dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan. Selanjutnya, berlanjut ke proses memindai dan menjelajahi. Proses ini, bagi saya secara pribadi, menjadi salah satu proses penting untuk menanamkan pemahaman dari tujuan proses bacakilat kita sebelumnya ke pikiran sadar kita. Memilikinya secara utuh sehingga bisa digunakan kapanpun dibutuhkan. Proses menjelajahi ini diakhiri dengan pembuatan mindmapping dari masing-masing peserta. Lalu, sebagai uji pemahaman, masing-masing peserta diminta untuk mempresentasikan, memaparkan, atau menceritakan apa yang telah didapat dari proses bacakilat dengan berbekal mindmapping yang terlah dibuat kepada teman disampingnya secara bergantian. Dan, hasilnya, tak sedikit yang merasa heran kenapa mereka bisa menceritakan secara lancar buku pertama yang telah mereka baca, padahal sebelumnya mereka merasa kesulitan untuk memahami buku tersebut. Buku pertama selesai, setelah makan siang, para peserta mulai melakukan proses yang sama pada buku kedua dan ketiga, setelah sebelumnya diperkenal dengan teknik baca ekpress yang bisa digunakan untuk membaca novel, buku teknis, akademis, atau bunga rampai. Hari kedua dan terakhir ini diakhiri dengan pemaparan tentang proses aktivasi otomatis, integrasi bacakilat dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bukan Tiupan Angin Surga

Bacakilat, speed reading, atau apalah namanya, belum begitu menarik perhatian bagi saya sebelum saya mengikuti workshop kali ini. bagaimana mungkin prose membaca yang terbilang cukup kompleks karena harus ada proses pemahaman bisa kita lakukan secara cepat atau kilat. Pasti tidak mungkin.

Namun, semua berubah seiring dengan adanya workshop yang saya ikuti. Bacakilat bukanlah satu prose parsial, namun harus kita lihat sebagai sistem yang didalamnya mencakup beberapa langkah. Proses bacakilat sendiri pada dasarnya hanya merupakan satu langkah dari sekian langkah sistem bacakilat yang harus kita lakukan. Ada langkah dan prosedur yang tidak bisa kita lepaskan dan tidak boleh kita pandang sebagai bagian yang tak saling berkaitan atau berdiri sendiri.

Bagi saya, bacakilat telah memberikan satu perubahan mindset yang selama ini mendekam dalam diri saya selama bertahun-tahun. Menjadikan proses membaca menjadi lebih menyenangkan, rileks, namun tetap fokus dan berujung pemahaman.

Mari bangun Indonesia dengan membaca!    
 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s